Fisika

Surat Cinta Seorang Ahli Fisika


Semenjak bertemu denganmu, energi statik benih cintamu telah mengejutkan gaya pegas jantungku, sehingga jantungku berdetak tak beraturan bagaikan gelombang bunyi gendang yang tak beraturan saat aku berada beberapa meter darimu. Refleksi cahaya cintamu telah membunuh urat mataku sehinga membiaskan bayangan wajahmu yang selalu di otakku.

Pancaran Radiasi Pesonamu membuat otakku tidak bisa berpikir rasional, sehingga elektromagnet dalam hatiku terpengaruh gelombang magnet cintamu. Sejak Saat itu, atom-atom penyusun cinta ini kian mengumpul karena gaya listrik statik dan energi Potensial di hatiku.
Saat jauh darimu, partikel-partikel cintaku tidak bisa diam sehinga melakukan tumbukan-tumbukan lenting sempurna dan menghasilkan energi rindu dengan rumus E = MC2, yang mana M adalah Masa waktu dimana semakin lama semakin jauh darimu maka energi rinduku semakin bertambah besar. Sedangkan C adalah Cintaku padamu yang berbanding lurus dengan Energi rinduku.
Usaha untuk memberikan gaya lorenzt-ku padamu telah kuberikan dengan FL = i B Sin ØØ. Mudah-mudahan dengan penurunan rumus cintaku padamu dapat memahami pemuaian cintaku padamu dan peningkatan massa jenis cintaku agar tekanan cinta dalam hatiku bisa setimbang setelah bereaksi dengan cahaya cintamu. Dimana bila FL adalah gaya cintaku padamu akan berbanding lurus dengan i (arus listrik cintaku) dan B adalah besarnya medan magnet dalam hatiku dan arah sudut refleksi cinta dengan Sin.
I intensitas
L listrik
O optik
V kecepatan
E energi

U usaha

10 lambang Negara Terbaik di Dunia

1. garuda pancasila (indonesia)


2. krut pha (thailand)
3.elang hitam austria (austria)
4.Commonwealth Coat of Arms atau Lambang Persemakmuran (australia)
5.lambang negara afrika selatan
6. belgian lion atau leo belgicus (belgia)
7.lambang negara spanyol
8.lambang negara aljazair
9.Skjaldarmerki Íslands (islandia)
 10.Orzeł Biały "elang putih" (polandia)


Sumber: http://zc-secret.blogspot.com/2011/08/10-lambang-negara-terbagus.html#ixzz1wGsUjTT5

Jenis Alat Musik Tradisional Sulawesi Selatan

Jenis Alat Musik Tradisional Sulawesi Selatan


Peralatan instrumen musik tradisional Sulawesi Selatan bermacam-macam jenis dan fungsinya sehingga dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) jenis alat instrumen musik tradisional, meliputi:



1. Jenis alat instrumen yang sumber bunyinya berasal dari kulit yang dibentangkan (membranofon) seperti  gendang, rebana dan sejenisnya. 
2. Jenis alat instrumen yang sumber bunyinya berasal dari udara (aerofon) seperti: suling, serunai, dan  sejenisnya. 
3. Jenis alat instrumen yang sumber bunyinya berasal dari alat itu sendiri (idiofon) seperti: gong, kennong,  dan kentongan. 
4. Jenis alat instrumen yang sumber bunyinya berasal dari dawai atau senar yang di bentangkan (kordofon) seperti: kecapi, rebab, dan gambus.


Jenis alat musik tersebut  tersebar pada 23 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan, sebagai berikut:


  1. Kabupaten Gowa: gendang, puik-puik, gong, katto-katto, lesung (assung), rebab (keso-keso), kennong (kannong-kannong), gambus, kecapi, rebana, kancing, bulo sia-sia, dan berang-berang.
  2. Kabupaten Takalar: gendang, puik-puik, gong, katto-katto, lesung (assung), gambus, kecapi, rebana, mandaliung (mandolin), biola, suling toraya, genggong, keso-keso.
  3. Kabupaten Jeneponto: gendang, lesung (paddekko), gambus, rebana, mandolin (mandaliong).
  4. Kabupaten Bantaeng: gendang, lesung (paddekko), gambus, rebana, kalung-kalung tedong.
  5. Kabupaten Bulukkumba: gendang (ganrang poce dan ganrang tumpeng), basing, rebana, biola.
  6. Kabupaten Sinjai: suling, gendang, lesung, pauni, barrasa, ana’ backing, genggong, gamaru, jong.
  7. Kabupaten Barru: genrang riwakkang(gendang dipangku), mandaliung, gendang pencak, basing pasing, gambus, suling lontarak.
  8. Kabupaten Bone: genrang bajo, genrang sanro, genrang sinta, genrang bali, suling, katiting, genggong, genrang pangampi, mandaliung, gambus.
  9. Kabupaten pangkep: mandaliung, gendong-gendong, kecapi, gambus, genrang bulo, genrang ada’, genrang pamanca, lesung, biola.
  10. Kabupaten wajo: gandong-gandong, lea-lea, kancing-kancing, gong, genrang ba’wali, suling lampe, pitu-pitu, pani-pani, biola, katto-katto, palungeng(lesung), genrang tellu, genrang pamanca, paleppa, kecapi.
  11. Kabupaten soppeng: panoni, suling baliu, gambus, kecapi.
  12. Kabupaten Luwu Timur: bombonga (gong), singgala (gendang), ngge-ngge.
  13. Kabupaten Sidenreng Rappang: kecapi, suling bulatta, gendang, gong, gesong-kesong.
  14. Kotamadya Pare-Pare: kecapi, gendang bugis, marawis.
  15. Kabupaten Pinrang: genrang pamanca, kecapi.
  16. Kabupaten Selayar: gendang, billi-billi (serunai bamboo), gong, batti-batti, rabana.
  17. Kabupaten Maros: gendang, gong, ana’baccing, parappasa’(lea-lea), kannong-kannong(tawa-tawa).
  18. Kota Makassar: tanjidor, rebana, gendang, puik-puik, gong.
  19. Kabupaten Enrekang: musik bambu (pompang), baruttung.
  20. Kabupaten Toraja: gendang toraja, suling lembang.
  21. Kotamadya Palopo, kabupaten Luwu, dan kabupaten Luwu Utara: gendang, genrang ada, genrang biasa, suling.


(Buku Sumber: "Data Instrumen Musik Tradisional" Propinsi Sulawesi Selatan, 2007, DISBUDPAR Sulsel, Makassar).

Tarian Tradisional SulSel

SENI TARI DI SULAWESI SELATAN


Seni tari di Sulawsi Selatan, pada mulanya juga bersumber dari rangkaian pemujaan kepada dewa yang dianggap menguasai alam semesta dan segala sesuatu di atas dunia ini. Tari-tari pujian itu, yang ditujukan kepada dewa-dewa menunjukkan semacam gerakan-gerakan anggota badan yang lemah gemulai, diiringi oleh bunyi-bunyian yang merayu-rayu, untuk membujuk atau mempengaruhi sang dewa untuk memenuhi permintaan manusia agar usahanya berhasil. Tari-tari seperti itu dilakukan sebelum orang memulai sesuatu pekerjaan, seperti sebelum orang memulai pekerjaan di sawah, dilakukanlah tari-tari “mappalili” (Sigeri), “mangampo”(dibeberapa negeri Bugis), “appassili” (dibeberapa negeri Makassar). Pada umumnya tari-tari seperti ini, dilakukan oleh para bissu (wadam) yang menjadi dukun-dukun istana, atau perawat alat-alat kerajaan.
Di samping tari untuk maksud pemujaan atau pembujukan kepada dewa-dewa untuk berhasilnya suatu pekerjaan terdapat juga berbagai tari-tarian di Sulawesi Selatan yang dikembangkan sebagai tari-tari hiburan, baik untuk menghormati tamu-tamu yang datang, maupun untuk hiburan umum dalam kalangan masyarakat. Tiap-tiap daerah mempunyai jenis tari-tarian yang seolah-oleh melukiskan watak manusia daerah itu. Tari-tari itu mempunyai nama sendiri. Dilakukan oleh gadis-gadis remaja, diiringi oleh generang, gong, dan bunyi-bunyian lain.
Tari-tarian dari tiap daerah yang menunjukkan identifikasi khusus daerahnya adalah beberapa tari-tarian klasik, dapat disebut antara lain; Tari Paggellu’ dari Toraja, Tari Pajaga dari Tana Luwu’, Tari Pajoge dari Tana Bone, Tari Pakarena dari Butta Gowa, Tari Pattuddu’ dari Mandar.
TARI PAGELLU’ Tarian khas dari daerah Toraja. Penarinya terdiri atas gadis-gadis remaja. Berbaju putih dengan hiasan keemasan, mulai dari kepala sampai sarung yang menutup rapat bagian tubuh sebelah bawah. Memakai kalung manik-manik yang teranyam indah, dan memakai dua bilah keris di bagian depan. Gerakan tangannya seperti burung yang sementara terbang dengan tenangnya dan gerakan kaki menggambarkan perjalanan naik turun lembah dan bukit, yang melukiskan keadaan alam Tana Toraja. Genderang dan bunyi-bunyian yang mengikuti tarian itu bernada tinggi (monotoon) arkais. TARI PAJAGA Tarian khas Tana Luwu’. Penarinya terdiri atas gadis-gadis remaja. Berpakaian baju yang mirip baju bodo, warna-warni dengan sarung keemasan. Dari kepala sampai ujung-ujung tangannya dibubuhi hiasan-hiasan keemasan. Gerakan-gerakan tarinya, banyak diletakkan pada gerakan tangan yang diserasikan dengan gerak kaki yang menimbulkan gerakan pinggul yang lembut. Tipe arkais yang mengutamakan ketegangan tampak pada tari Pajaga ini. Tari Pajaga pada zaman dahulu, ditarikan oleh gadis-gadis istana dipenghadapan raja-raja pada pesta-pesta kerajaan. Bunyi-bunyian yang mengiringinya juga monotoon. TARI PAJOGE Tarian khas dari Tana Bone, penarinya terdiri atas gadis-gadis remaja, berpakaian baju bodo, warna merah atau hijau. Dihiasi dengan hiasan-hiasan emas bergelang panjang (potto kati). Bersarung lipa’ sabbe (sarung sutera) yang ditenun dengan benang-benang emas. Dibagian kepalanya terdapat sanggul tinggi (simpolong tettong) dengan jumbai-jumbai menggambarkan pengaruh dari penari-penari Cina. Di tangannya terdapat kipas, yang dibuka dan dikatupkan sesuai dengan gerakan-gerakan yang menyertainya. Ada semacam tari pajoge yang tidak terdapat pada tari-tari lain yaitu disebut “ballung”. Ballung itu dilakukan sementara (gerakan) duduk, dengan seolah-olah menyandarkan kepala penari kebelakang, hampir menyentuh penonton yang sedang duduk. Genderang dan gong, serta bunyi seruling yang menyertai, menggambarkan paduan gerak dan bunyi yang cenderung untuk menggembirakan para penonton. Tari Pajoge selain dilakukan di istana, juga dapat dilakukan pada keramaian umum. TARI PAKARENA Tari Pakarena, tarian khas dari Butta Gowa. Penarinya terdiri atas gadis-gadis remaja, berpakaian baju bodo, warna merah atau hijau. Memakai gelang panjang (potto kati) dengan kalung emas teranyam menutupi bagian dada penari, kepalanya dihiasi dengan simbololeng-tinggi dengan bunga-bunga emas yang disebut pinang goyang. Sarungnya adalah sarung-sarung sutera yang ditenun dengan benang-benang keemasan dengan cure’to Gowa (motif-motif orang Gowa). Mereka menari dengan mempergunakan kipas yang dibuka dan dikatup, sesuai dengan irama genderang dan pui’-pui’ (seruling yang mengiringinya. Apa yang khas dari tari pakarena ini ialah adanya seolah-olah keadaan yang kontras antara gerakan-gerakan tangan yang sangat halus dengan gerakan-gerakan penabuh genderang dan gong yang sangat lincah, serta bunyi genderang yang memekakan telinga. Dahulu kala tarian Pakarena ini hanya ditarikan di hadapan raja dan pada pesta-pesta kerajaan. Pada keramaian-keramaian umum tari Pakarena pun sering diadakan, akan tetapi dengan keadaan pengawalan yang sangat kerasnya, karena pada keramaian-keramaian umum seringkali terjadi keributan-keributan yang dapat menimbulkan pengamukan yang menimbulkan banyak korban. TARI PATUDDU’ Tarian khas dari Mandar. Penarinya terdiri atas putri-putri remaja, berpakaian khas Mandar, yaitu kombinasi antara baju bodo dengan pakaian Toraja, yang ketat pada bagian lengan atas. Warnanya arkais, merah tua atau cokelat kemerahan, dengan sarung mandar yang sangat halus tenunannya. Tari Patuddu’ ini pada dasarnya menunjukkan kelemahgemulaian wanita Mandar. Gerakan-gerakannya memerlukan kemulusan dan kehalusan gerak yang diiringi oleh bunyi-bunyi genderang dan gong yang mengingatkan orang berlayar dalam ketenangan, tanpa mempedulikan gemuruh gelombang yang menderu-deru. Gambaran tentang angin sepoi-sepoi basa, diekspresikan oleh para petani dengan sangat hati-hati, seolah menanti kedatangan pelaut-pelaut kembali dari rantau. Penari-penari yang terdiri atas para remaja putri pada umumnya harus terdiri atas gadis-gadis istana, dan ditarikan di penghadapan raja-raja di lantai-lantai istana. Tari Patuddu’ yang dipertujukkan di depan keramaian umum, penarinya tentu tidak boleh terdiri atas orang-orang istana, melainkan dari penari rakyat juga, dan sangat menarik umum untuk menontonnya. Pada zaman dahulu kala tari Patuddu’ ini biasanya ditarikan oleh sekurang-kurangnya 14 orang putra dan putri yang belum kawin. (sumber: Majalah Antropologi Sosial dan Budaya Indonesia).

Lagu Bugis:
ONGKONA  SIDENRENG

Lagu    : N.N.
Syair    : La Inding

Tenna bosi riulunna, ala tenna bosi
Tenna bosi ri ulunna
Nalempe’ ri toddanna, nalem’pe’ ri toddanna
Namali’ lebbae   u u u ……………………….
Namali’ lebbae

Iya lebba mutaroe, ala iya lebba
Iya lebba mutaroe
Tessappe temmalullu, tessape temmalullu
Natiya lajo unga u u u u…………………………
Natiya lajo unga

Lajo unga risessa’si, ala lajo unga
Lajo unga risessa’si
Sape’si rijai’si, sape’si rijai’si
Nabaru si paimeng u u u………………………
Nabaru si paimeng

Mauni baru paimeng, ala mauni baru
Mauni baru paimeng
Teppada-pada tona, teppada-pada tona
Rimula melle’na u u u………………………
Rimula melle’na
  

ININNAWA SA’BARAE
N.N.

Ininnawa sa’barae
 Lolongeng  gare deceng
To sabbaraede
Tosabbaraede

Deceng enre’ki ribola
Tejjali tetappere
Banna mase-mase
Banna mase-mase

ONGKONA ARUMPONE
DG. Masikki
Rekkuwa andi laoki’ baja
Taroki’ lebba ce’de, taroki lebba cede
Alla pallawa uddani, alla pallawa uddani
Rekkuwa andi maruddanki
Cengaki riketengnge, cengaki riketengnge
Alla tosiduppa mata, alla tosiduppa mata
Duppa mata andi ninitokki
Innau mata tokki, innau mata tokki
Alla aja’ torikapang
Mauni andi pada rikapang
Tapada makkatenni, tapada makkatenni
Alla rewiring tennungnge





MASAALA

Daeng Paliye



Masaala
Taromua napakkuwa
Menre’pa  ri cempae
Namicci elomu

Masaala
Micci’ elo manre cempa
Waena kalukue
Mappassau dekka

ANA’ MA’BURA MALI
 Syair: Hasan Pulu

Peddi pale koto biyu
Ana’ ma’bura’ mali
Malasa tenri, malasa tenri jampang
Mate tenri, tenri walu

Riwalussi daun loka
Ana’ ma’bura mali
Rilemme gangka, rilemme gangka uttu
Nasungkessi  andi bawi

Engkasi nasesa bawi
Ana’ ma’bura mali
Ripari timpo, ripari timpo-timpo
Nanresi andi bebbu’

Engkasi nasesa bebbu
Ana’ ma’bura mali
Ripari lepa, ripari lepa-lepa
Nairi’si andi anging

INDO’ LOGO
Syair: Indo Logo

Kegasi samanna lipu’ rile’jja indo logo
Kegasi samanna lipu’ rile’jja indo logo
Kegasi samanna riyonroi ala riyonroi
Paranru sengareng

Sengarengmu samanna pada bulu’ indo’ logo
Sengarengmu samanna pada bulu’ indo’ logo
Adammu samanna silappae ala silappae
Ruttungeng manenni

Bulue samanna maruttu tona indo logo
Bulue samanna maruttu tona indo logo
Tanete samanna lepa tona ala leppa tona
Nataro uddani

Muddaniki samanna appasekki indo’logo
Muddaniki samanna appasekki indo’logo
Lettugi samanna tallettugi ala tallettugi
Komappaseng moki









Lagu Makassar:
PAKARENA
Ikatte ri turatea bau, adattama rioloa sayang
Eaule pakarenaya, pakarenaya labbiri ripaggaukang
Punna niya paggaukang bau, niya pattempoang sayang
Eaule sukku bajina, sukku bajina, punna niya pakkarena
Pakkarena lengo-lengo bau, pagganrang ammiki-miki sayang
Eaule papui-pui, papui-pui sagge rapa sulengkana 




DONGANG-DONGANG
N.N.
Takunjunga bangungturu’ galle’
Nakuganciri’ gulingku
Kualleanna  tallanga na toalia dongang-dongang
Labela karaeng
Dongalla dongan dongalla nia te’ne  na te’ne’ nala lo apami gau
Tutuki’ ma’lepa-lepa galle
Ma’biseang rate bonto
Tallang ki’ sallang
Ki nasakko’ alimbu’bu
Dongang-dongan labela karaeng
Dongalla dongan dongalla nia te’ne  na te’ne’ nala lo apami gau
 

TOENGI BAMBO
N.N.
Toengi bambo’ de’, toengi bambo’ de
Toengi tanring rapponna malledong
Tanring rapponna de’, tanring rapponna de’
Tanring pa’ dengkolenganna malledong







MA’RESA-RESA

N.N.



Sorong sai biseang ta
Kipanaung biring kassi
E aule’ kipara ma’bise-bise
Mangngunjungi  Lae-Lae
E aule’ ri Lae-Lae pi sallang
Kipara ma’rannu-rannu

PAKACAPI
N.N.

Lantang banngi kummuriang
Nakumbangung mappidandang
Rilanngerekku
 Datte-datte pakacapi

Mannamo mabella-bella
Naerang anging mammiri’
Nasi’na kamma
Pakarawang-rawang kamma

Pakacapi kelong-kelong
Gallanga makkuring-kuring
Ko’bi’- ko’bi’ na
Sa’ra datte kacapinna

AMMACCIANG
N.N.

Ammacciang dendang, ammacciang dendang
Ammacciang, tallulawara’ leko’na
Napa napa’la’langi
Sikontu  bonena lino

Ribiring kassi’ iya tu dende’
Mattamparang, mattamparang laisi’nu
Alla mattete bombang
Bukkuleng tamalla’junu




                                         Lagu Toraja: 

 

MARENDENG MARAMPAK

Marendeng Marampa, Kadadianku Dio Padang di gente' toraya, Lebukan Sulawesi Mellombok, membuntu,mentanete na Nakabu' uma sia pa'lak, Nasakkai' Salu Sa'dan Kami sangtorayan,umba-umba padang kiolai maparri' masussa kirampoi, tang kipomabanda penaa' iyamo passanan tengko ki, umpasundun rongko' kan. 




TOMANGLA
Y.K. Parantean
Z.Poli
E  sangmane mane ku tomangla
Palumai tu panglamu
Da’mupamasussai kalemu
Di oluto’ riurangke
Inde ko tama’ masannang sannang
Tama’kallode’lode
Taram panan nitu panglata
Inde teto’ riukamban
Parang dukmi e sangmane
Iko ridolo sangmane
Tasisemba’ semba’
E sang mane-mane ku tomangla
Solo’ motuallo
Tarendensulemi panglata
Suletama to’bontongna
 
Lagu Mandar: 
TENGANG-TENGGANG LOPI   
TENGGANG TENGGANG LOPI, LOPINA ANAKODA
ANAKODA DIPANJA’JA, DIPANJA’JA ULUANNA
ULUANNA LEPA-LEPA, LEPA-LEPA LAMBANG LIWANG
LAMBANG LIWANG DILALLUTE, MAPPAROTTONG TINJA’NA
POLEYA-POLEYA LIWANG, NATOANA MA’LE MAI
TEDONG LOTONG TAKKE TANDU, APA MOKARA’ MA-ANDE 




WATTU TALLOBE’NA
Cipt: Syaiful Sinrang
Di wattu tallobe’na, kampong pembolongatta
Mario-rionitta, mau minasa pale
Mau minasa pale, lita pembolongatta
Disenga disalili, mua marrangi bulang
Kurru to dhikapputta, Lo’ bemi nande api
Kurru  mo na’ banua, lambasi sara-sara
Mua ningarrang bomi, dissiola-olata
Ra’da uwae mata, maingarrang kapputta 
SARADAO PIPAULE
 N.N.
Saradao pipaule
Muang  diang diola, muang  diang diola
Issani siri’ diwanuanna tau, issani siri’ diwanuanna tau
Malassu daung anjoro
Upi polei tama, upi polei tama
Nasau dai tuna kasi asiu, nasau dai tuna kasi asiu
Batang rappe daiyau
Diwanuanna tau, diwanuanna tau
Polei lembong napalatang boma, Polei lembong napalatang boma





Sumber/Buku Sumber: 


1. Syamsul Qamar, 1988, "Kumpulan Lagu-lagu Daerah Sulawesi Selatan", Ujung Pandang.
2. Andi Ni'ma Fada, "Fungsi Musik Ma'biola Ogi" (tesis:2002) UNM-Makassar.
3. Dian Ekawati, VCD "Album Exclusive 4 etnis", Irama Baru Record, Makassar.
4. Dian Ekawati, VCD "Album Spesial", Irama Baru Record, Makassar.
oldies bugis-makassar